Tampilkan postingan dengan label RAGAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RAGAM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juni 2017

Qatar Surganya Dunia, Uji Nasionalisme Anda: Setelah Membaca Ini, Anda Ingin Terlahir di Qatar atau Indonesia??

aspetar.com


Negara Qatar adalah Negara yang Paling Kaya nomor satu di dunia. Negara yang tidak punya hutang kepada negara manapun Pendapatan Perkapita (GDP) Qatar TERTINGGI SEDUNIA. Urutan nomor satu. Pendapatan rata-rata penduduknya Rp 147 juta per BULAN.

Setiap Bayi warga Qatar lahir ke dunia, Negara sudah menyiapkan sebuah rumah untuknya. Begitu usia sekolah, setiap anak dipersilahkan sekolah atau kuliah dimana saja. boleh memilih di dalam ataupun luar negeri, semuanya dibiayai Negara secara penuh termasuk biaya hidup dan uang saku dalam jumlah besar

Beberapa universitas Amerika Serikat telah membuka cabangnya di Qatar dengan dukungan Qatar Foundation, di antaranya adalah Carnegie Mellon University, Georgetown University School of Foreign Service, Texas A&M University, Virginia Commonwealth University, dan Cornell University’s Weill Medical College

Setelah tamat belajar setiap warga dipersilahkan memilih pekerjaan apapun asal masih di dalam Negara.

Pasti Negara memberi pekerjaan yg pantas dan dengan Gaji yang lebih tinggi dari Expatriat (TKA) untuk kualifikasi setara dan sejenis. Gaji dan kedudukan Rakyat Qatar harus lebih tinggi dari Orang Pendatang Asing.

Bila waktu menikah tiba, setiap laki-laki boleh punya 4 (empat) istri. Dan Negara menyediakan untuk masing masing dari setiap Istri Pembantu rumah dan Sopir. Negara yang menggaji Pembantu dan Sopir. Bila perempuan Qatar melahirkan boleh memilih rumah sakit mana saja di dalam atau luar negeri dan Negara yang bayar.

Negara Qatar ini punya tentara tapi juga menyewa USA Naval dan Army. Untuk menjadi Prajurit menjaga Keamanan Negara. Negara Qatar juga punya Polisi tapi juga membayar Polisi dari Pakistan untuk menjaga dan mengatur Lalu Lintas. Meski demikian jabatan Jendral, Komandan, Inspektur atau Pimpinan kesatuan harus tetap Warga Negara Qatar.

Di Qatar, polisinya banyak nganggur dan penjaranya nyaris kosong karena tingkat kejahatan yang sangat rendah. Di Doha ibukotanya, merupakan New York-nya Timur tengah. Banyak gedung2 pencakar langit dan pusat bisnis di kawasan Teluk .

Stadionnya ada di mana2 sekelas Old Trafford. Tak heran Qatar ditunjuk sebagai Tempat penyelenggaraan Piala Dunia (World cup) tahun 2022. Jangan lupa Qatar sponsor utama FC Barcelona. Qatar juga penyelenggara balap motoGP dan sedang menawarkan 2 sirkuit kelas dunianya untuk penyelenggara event F1.

Negeri Qatar juga mulai menguasai bisnis telekomunikasi dunia. Pemegang saham terbesar INDOSAT saat ini adalah Qatar Tekecom, BUMN Qatar. Tahun 2015-2016 Pendapatan Perkapita (GDP) Qatar adalah Rp. 1,7 Milyar perkepala pertahun.

Di Qatar, tidak ada Pajak untuk rakyatnya. Apakah ada Bank…?Ada akan tetapi tidak ada Bunga. Kadang-kadang bila hari Raja berulang tahun, seluruh hutang Rakyatnya kepada Bank dihapuskan oleh Raja.

Ditulis oleh Imam Puji Hartono

Sumber: opinibangsa.id

Qatar Surganya Dunia, Uji Nasionalisme Anda: Setelah Membaca Ini, Anda Ingin Terlahir di Qatar atau Indonesia??

aspetar.com


Negara Qatar adalah Negara yang Paling Kaya nomor satu di dunia. Negara yang tidak punya hutang kepada negara manapun Pendapatan Perkapita (GDP) Qatar TERTINGGI SEDUNIA. Urutan nomor satu. Pendapatan rata-rata penduduknya Rp 147 juta per BULAN.

Setiap Bayi warga Qatar lahir ke dunia, Negara sudah menyiapkan sebuah rumah untuknya. Begitu usia sekolah, setiap anak dipersilahkan sekolah atau kuliah dimana saja. boleh memilih di dalam ataupun luar negeri, semuanya dibiayai Negara secara penuh termasuk biaya hidup dan uang saku dalam jumlah besar

Beberapa universitas Amerika Serikat telah membuka cabangnya di Qatar dengan dukungan Qatar Foundation, di antaranya adalah Carnegie Mellon University, Georgetown University School of Foreign Service, Texas A&M University, Virginia Commonwealth University, dan Cornell University’s Weill Medical College

Setelah tamat belajar setiap warga dipersilahkan memilih pekerjaan apapun asal masih di dalam Negara.

Pasti Negara memberi pekerjaan yg pantas dan dengan Gaji yang lebih tinggi dari Expatriat (TKA) untuk kualifikasi setara dan sejenis. Gaji dan kedudukan Rakyat Qatar harus lebih tinggi dari Orang Pendatang Asing.

Bila waktu menikah tiba, setiap laki-laki boleh punya 4 (empat) istri. Dan Negara menyediakan untuk masing masing dari setiap Istri Pembantu rumah dan Sopir. Negara yang menggaji Pembantu dan Sopir. Bila perempuan Qatar melahirkan boleh memilih rumah sakit mana saja di dalam atau luar negeri dan Negara yang bayar.

Negara Qatar ini punya tentara tapi juga menyewa USA Naval dan Army. Untuk menjadi Prajurit menjaga Keamanan Negara. Negara Qatar juga punya Polisi tapi juga membayar Polisi dari Pakistan untuk menjaga dan mengatur Lalu Lintas. Meski demikian jabatan Jendral, Komandan, Inspektur atau Pimpinan kesatuan harus tetap Warga Negara Qatar.

Di Qatar, polisinya banyak nganggur dan penjaranya nyaris kosong karena tingkat kejahatan yang sangat rendah. Di Doha ibukotanya, merupakan New York-nya Timur tengah. Banyak gedung2 pencakar langit dan pusat bisnis di kawasan Teluk .

Stadionnya ada di mana2 sekelas Old Trafford. Tak heran Qatar ditunjuk sebagai Tempat penyelenggaraan Piala Dunia (World cup) tahun 2022. Jangan lupa Qatar sponsor utama FC Barcelona. Qatar juga penyelenggara balap motoGP dan sedang menawarkan 2 sirkuit kelas dunianya untuk penyelenggara event F1.

Negeri Qatar juga mulai menguasai bisnis telekomunikasi dunia. Pemegang saham terbesar INDOSAT saat ini adalah Qatar Tekecom, BUMN Qatar. Tahun 2015-2016 Pendapatan Perkapita (GDP) Qatar adalah Rp. 1,7 Milyar perkepala pertahun.

Di Qatar, tidak ada Pajak untuk rakyatnya. Apakah ada Bank…?Ada akan tetapi tidak ada Bunga. Kadang-kadang bila hari Raja berulang tahun, seluruh hutang Rakyatnya kepada Bank dihapuskan oleh Raja.

Ditulis oleh Imam Puji Hartono

Sumber: opinibangsa.id

Selasa, 06 Juni 2017

Netizen Heran: Demi Bela Afi, Rhenald Kasali Rela Bantah Pendapatnya Sendiri Tentang Plagiarisme!

Kompas.com

Dengan berbagai argumentasi Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali tampak melakukan pembelaan kepada aksi plagiat yang dilakukan oleh Afi Nihaya.
Seperti diketahui, jagad media sosial dihebohkan oleh tulisan seorang Kompasianer mengenai status Afi yang berjudul “Belas Kasih dalam Agama Kita”.
Tulisan tersebut dianggap plagiat dari tulisan serupa dari seseorang yang memiliki akun Facebook yang bernama Mita Handayani. Lantas, apakah benar Afi melakukan plagiarisme?
Dilansir Kompas, Renald menuturkan plagiat atau tidak, hanya berlaku untuk karya ilmiah. Sepanjang kata-kata atau tulisan merupakan pendapat umum, hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai plagiarisme.
“Sebagai contoh saya mengambil kata-kata populer dari Aa Gym yaitu ‘perubahan harus dimulai dari diri sendiri’. Kalau ada yang usil, bisa saja dipersoalkan itu adalah kutipan dari John Maxwell. Namun si pemilik kutipan asli tidak mempermasalahkan dan sekarang kutipan tersebut terkenal sebagai kutipannya Aa Gym, dan bukan merupakan plagiarisme,” ujarnya saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (1/6/2017).
Pernyataan Rhenald diatas ternyata membantah pernyataannya sendiri. Karena pada tanggal 20 April 2010, Rhenald penah menulis di laman Kompas artikel dengan judul: “Orang Pintar Plagiat”.
Berikut beberapa kutipannya:
Orang Pintar Plagiat oleh Rhenald Kasali
“Maraknya plagiarisme yang dilakukan orang-orang pintar di negeri ini menimbulkan keprihatinan yang besar di kalangan pendidik. Masalahnya, itu justru dilakukan para pendidik yang harus memberi contoh dan sehari-hari melarang anak-anak didiknya mengopi, mengganti nama, memanipulasi, atau sekadar mengutip tanpa menyebut sumber.
Lebih mengkhawatirkan lagi ternyata plagiarisme yang dilakukan bukan sekadar mengutip tanpa menyebutkan sumber aslinya (yang sering disebut sebagai ”ketidaksengajaan”), melainkan pemalsuan 99 persen dengan hanya mengganti judul dan nama penulis dari karya orang lain.
Karya ilmiah adalah cermin keilmuwanan seseorang. Lebih baik mengawali karier dengan karya original yang buruk daripada plagiat kesempurnaan karena setiap permulaan selalu sulit. Seorang pendidik harus percaya diri dengan kemampuannya dan tidak boleh malas berpikir. Kedua hal itulah titik awal yang menjadikan pendidik bermanfaat bagi dunia. Menulis, seperti kata Thomas Szaz, butuh lebih dari sekadar pengetahuan, yaitu keterampilan dan mencintai profesi.”
Peritiwa ini bikin heran para netizen yang dulu suka dengan Rhenald Kasali. Dimedia sosial Twitter, ramai netizen gagal paham dengan Rhenald. Disatu sisi dia tidak sependapat dengan aksi plagiat, tapi disatu sisi Rhenald membela Afi yang sudah terbukti melakukan plagiat.
“Bela Afi plagiator cilik Prof Rhenald Kasali bahkan hrs bantah pendapatnya sndr, Ironis Guru Besar bela Plagiaris negri kita darurat mental,” kicau akun @ekowBoy (4/6/17), sambil melampirkan screen shot 2 pernyataan Rhenald yang berbeda.

Netizen Heran: Demi Bela Afi, Rhenald Kasali Rela Bantah Pendapatnya Sendiri Tentang Plagiarisme!

Kompas.com

Dengan berbagai argumentasi Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali tampak melakukan pembelaan kepada aksi plagiat yang dilakukan oleh Afi Nihaya.
Seperti diketahui, jagad media sosial dihebohkan oleh tulisan seorang Kompasianer mengenai status Afi yang berjudul “Belas Kasih dalam Agama Kita”.
Tulisan tersebut dianggap plagiat dari tulisan serupa dari seseorang yang memiliki akun Facebook yang bernama Mita Handayani. Lantas, apakah benar Afi melakukan plagiarisme?
Dilansir Kompas, Renald menuturkan plagiat atau tidak, hanya berlaku untuk karya ilmiah. Sepanjang kata-kata atau tulisan merupakan pendapat umum, hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai plagiarisme.
“Sebagai contoh saya mengambil kata-kata populer dari Aa Gym yaitu ‘perubahan harus dimulai dari diri sendiri’. Kalau ada yang usil, bisa saja dipersoalkan itu adalah kutipan dari John Maxwell. Namun si pemilik kutipan asli tidak mempermasalahkan dan sekarang kutipan tersebut terkenal sebagai kutipannya Aa Gym, dan bukan merupakan plagiarisme,” ujarnya saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (1/6/2017).
Pernyataan Rhenald diatas ternyata membantah pernyataannya sendiri. Karena pada tanggal 20 April 2010, Rhenald penah menulis di laman Kompas artikel dengan judul: “Orang Pintar Plagiat”.
Berikut beberapa kutipannya:
Orang Pintar Plagiat oleh Rhenald Kasali
“Maraknya plagiarisme yang dilakukan orang-orang pintar di negeri ini menimbulkan keprihatinan yang besar di kalangan pendidik. Masalahnya, itu justru dilakukan para pendidik yang harus memberi contoh dan sehari-hari melarang anak-anak didiknya mengopi, mengganti nama, memanipulasi, atau sekadar mengutip tanpa menyebut sumber.
Lebih mengkhawatirkan lagi ternyata plagiarisme yang dilakukan bukan sekadar mengutip tanpa menyebutkan sumber aslinya (yang sering disebut sebagai ”ketidaksengajaan”), melainkan pemalsuan 99 persen dengan hanya mengganti judul dan nama penulis dari karya orang lain.
Karya ilmiah adalah cermin keilmuwanan seseorang. Lebih baik mengawali karier dengan karya original yang buruk daripada plagiat kesempurnaan karena setiap permulaan selalu sulit. Seorang pendidik harus percaya diri dengan kemampuannya dan tidak boleh malas berpikir. Kedua hal itulah titik awal yang menjadikan pendidik bermanfaat bagi dunia. Menulis, seperti kata Thomas Szaz, butuh lebih dari sekadar pengetahuan, yaitu keterampilan dan mencintai profesi.”
Peritiwa ini bikin heran para netizen yang dulu suka dengan Rhenald Kasali. Dimedia sosial Twitter, ramai netizen gagal paham dengan Rhenald. Disatu sisi dia tidak sependapat dengan aksi plagiat, tapi disatu sisi Rhenald membela Afi yang sudah terbukti melakukan plagiat.
“Bela Afi plagiator cilik Prof Rhenald Kasali bahkan hrs bantah pendapatnya sndr, Ironis Guru Besar bela Plagiaris negri kita darurat mental,” kicau akun @ekowBoy (4/6/17), sambil melampirkan screen shot 2 pernyataan Rhenald yang berbeda.

Sabtu, 03 Juni 2017

Diusulkan Jadi Duta Pancasila, 'Borok' Afi Nihaya Faradisa Malah Terbongkar!!

Portal-Islam.id

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar mengusulkan agar remaja asal Banyuwangi, Jawa Timur, Asa Firda Inayah atau yang lebih populer dengan nama anagram Afi Nihaya Faradisa (19 tahun), menjadi Duta Pancasila.
Muhaimin mengatakan pemerintah perlu memunculkan tokoh-tokoh muda yang terus tampil menjadi suara-suara Pancasila. Ia pun mengapresiasi pemikiran gadis 19 tahun asal Banyuwangi, Jawa Timur yang beberapa pekan terakhir sedang menjadi bahan perbincangan warganet ini.
Asa Firda Nihaya belakangan ini populer setelah artikel-artikelnya di akun media sosial Facebook viral. Artikelnya yang berjudul “Warisan” menjadi bahan perdebatan, menuai kritik, kecaman, ancaman, sekaligus pujian.
Cak Imin, sapaan akrabnya, mengatakan tulisan-tulisan dari anak muda seperti Afi harus menjadi bagian dari membumikan Pancasila. “Saya mengusulkan Afi ini menjadi duta Pancasila resmi yang diusung oleh MPR maupun pemerintah,” ujar dia usai Gerakan Membumikan Pancasila di Graha Gus Dur, Jakarta Pusat, pada Rabu (31/5), demikian dilansir Republika.
Tapi, apa mau dikata, ‘boroknya’ Afi malah terbongkar. Hal ini terkait dengan ditemukan tulisannya isinya bermuatan plagiat atau menjiplak tulisan orang lain dan mengaku sebagai tulisannya sendiri.
Berdasarkan informasi dari Portal Islam, tuduhan tersebut, persisnya dialamatkan untuk tulisan Afi yang berjudul “Belas Kasih Dalam Agama Kita”, yang dipublikasikan memakai namanya di Facebook (25/5/2017), dan juga dipublis detikcom dengan judul “Pezina yang Diampuni: Belas Kasih dalam Islam” pada 29 Mei 2017. (_https://news.detik.com/kolom/d-3514171/pezina-yang-diampuni-belas-kasih-dalam-islam).
Detik.com

Ternyata diketahui artikel Afi itu copy paste dari tulisan Mita Handayani (konon kabarnya aktivis pendukung LGBT) dengan judul “AGAMA KASIH” yang diunggah ke Facebook pada 30 Juni 2016 dengan perbedanan pada tanda baca penulisan, pemenggalan kalimat/paragraf dan judul yang diganti. Tambahan lain pada akhir paragraf dan ternyata juga saduran dari kalimat yang diucapkan Malala Yousafzai, gadis Pakistan peraih Nobel itu.
Pringadi , yang kali pertama secara serius mengangkat persoalan plagiarisme Afi ini.
Hal ini pertama kali dibongkar oleh Abdi Surya, pegiat sastra sekaligus bloger dan penulis di Kompasiana _http://www.kompasiana.com/pringadiasurya/drama-dugaan-plagiarisme-afi-nihaya-faradisa_592e7127747a61420332ee81
Jika sekedar copy paste dalam dunia per-status-an, barangkali kita juga sering melakukannya dari status teman yang dianggap bagus, itupun sering kita cantumkan nama penulisnya sebagai alternatif jika kita tak menemukan tombol share pada status teman tersebut.
Namun apa yang dilakukan Afi ini kelewat berani, karena di bawah judul tulisannya ia mencantumkan logo copyright dengan simbol © sebelum menulis namanya yang dapat diartikan bahwa ia adalah pemilik dan pemegang hak atas karya tulis tersebut.
JEJAK DIGITAL
Tulisan “Agama Kasih” yang awalnya diposting Mita Handayani pada 30 Juni 2016 sekarang tidak lagi bisa ditemukan publik. Ada yang menyebutkan disetting ke privasi “friend” bukan setting public, sehingga wajar jika tidak berteman dengan Mita Handayani tidak bisa melihat postingan Mita Handayani. Ada juga yang mengatakan tulisan “Agama Kasih” sudah dihapus Mita Handayani untuk menutup jejak.
Namun, beberapa postingan serupa, yaitu tulisan Agama Kasih, masih bisa ditelusuri jejak digitalnya.
Diposting 30 Juni 2016 oleh akun willyyandi (Willy Liu) _https://www.facebook.com/willyyandi/posts/10154269671022170
(Di postingan ini Willy Liu copas dan mencamtumkan nama “Mita” sebagai penulis artikel asli)
Diposting 11 Desember 2016
_https://www.facebook.com/cosmos.dedy/posts/10207215672502929


Diposting 21 September 2016 di Grup FB _https://www.facebook.com/groups/1561507077474381/permalink/1648637388761349/
Saat dikonfirmasi atas tulisan AFI “Belas Kasih Dalam Agama Kita” yang lagi heboh atas tudingan PLAGIAT, Willy Liu menegaskan “(itu) Tulisannya Mita Handayani, Dengan penambahan (edit) sedikit diakhir.”
Setelah heboh karena terbongkarnya aksi plagiarisme ini, akun facebook Afi Nihaya Faradisa saat ini tak bisa diakses. Dihapus atau menghilang?
Afi Nihaya Faradisa dikenal dengan tulisan-tulisan ala pemikiran liberalismenya. Namun akhirnya mendapat teguran langsung dari Allah di bulan suci Ramadhan ini.
Cerdas dan pintar itu bagus, tapi Kejujuran itu yang utama.
Sumber: Repelita.com

Diusulkan Jadi Duta Pancasila, 'Borok' Afi Nihaya Faradisa Malah Terbongkar!!

Portal-Islam.id

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar mengusulkan agar remaja asal Banyuwangi, Jawa Timur, Asa Firda Inayah atau yang lebih populer dengan nama anagram Afi Nihaya Faradisa (19 tahun), menjadi Duta Pancasila.
Muhaimin mengatakan pemerintah perlu memunculkan tokoh-tokoh muda yang terus tampil menjadi suara-suara Pancasila. Ia pun mengapresiasi pemikiran gadis 19 tahun asal Banyuwangi, Jawa Timur yang beberapa pekan terakhir sedang menjadi bahan perbincangan warganet ini.
Asa Firda Nihaya belakangan ini populer setelah artikel-artikelnya di akun media sosial Facebook viral. Artikelnya yang berjudul “Warisan” menjadi bahan perdebatan, menuai kritik, kecaman, ancaman, sekaligus pujian.
Cak Imin, sapaan akrabnya, mengatakan tulisan-tulisan dari anak muda seperti Afi harus menjadi bagian dari membumikan Pancasila. “Saya mengusulkan Afi ini menjadi duta Pancasila resmi yang diusung oleh MPR maupun pemerintah,” ujar dia usai Gerakan Membumikan Pancasila di Graha Gus Dur, Jakarta Pusat, pada Rabu (31/5), demikian dilansir Republika.
Tapi, apa mau dikata, ‘boroknya’ Afi malah terbongkar. Hal ini terkait dengan ditemukan tulisannya isinya bermuatan plagiat atau menjiplak tulisan orang lain dan mengaku sebagai tulisannya sendiri.
Berdasarkan informasi dari Portal Islam, tuduhan tersebut, persisnya dialamatkan untuk tulisan Afi yang berjudul “Belas Kasih Dalam Agama Kita”, yang dipublikasikan memakai namanya di Facebook (25/5/2017), dan juga dipublis detikcom dengan judul “Pezina yang Diampuni: Belas Kasih dalam Islam” pada 29 Mei 2017. (_https://news.detik.com/kolom/d-3514171/pezina-yang-diampuni-belas-kasih-dalam-islam).
Detik.com

Ternyata diketahui artikel Afi itu copy paste dari tulisan Mita Handayani (konon kabarnya aktivis pendukung LGBT) dengan judul “AGAMA KASIH” yang diunggah ke Facebook pada 30 Juni 2016 dengan perbedanan pada tanda baca penulisan, pemenggalan kalimat/paragraf dan judul yang diganti. Tambahan lain pada akhir paragraf dan ternyata juga saduran dari kalimat yang diucapkan Malala Yousafzai, gadis Pakistan peraih Nobel itu.
Pringadi , yang kali pertama secara serius mengangkat persoalan plagiarisme Afi ini.
Hal ini pertama kali dibongkar oleh Abdi Surya, pegiat sastra sekaligus bloger dan penulis di Kompasiana _http://www.kompasiana.com/pringadiasurya/drama-dugaan-plagiarisme-afi-nihaya-faradisa_592e7127747a61420332ee81
Jika sekedar copy paste dalam dunia per-status-an, barangkali kita juga sering melakukannya dari status teman yang dianggap bagus, itupun sering kita cantumkan nama penulisnya sebagai alternatif jika kita tak menemukan tombol share pada status teman tersebut.
Namun apa yang dilakukan Afi ini kelewat berani, karena di bawah judul tulisannya ia mencantumkan logo copyright dengan simbol © sebelum menulis namanya yang dapat diartikan bahwa ia adalah pemilik dan pemegang hak atas karya tulis tersebut.
JEJAK DIGITAL
Tulisan “Agama Kasih” yang awalnya diposting Mita Handayani pada 30 Juni 2016 sekarang tidak lagi bisa ditemukan publik. Ada yang menyebutkan disetting ke privasi “friend” bukan setting public, sehingga wajar jika tidak berteman dengan Mita Handayani tidak bisa melihat postingan Mita Handayani. Ada juga yang mengatakan tulisan “Agama Kasih” sudah dihapus Mita Handayani untuk menutup jejak.
Namun, beberapa postingan serupa, yaitu tulisan Agama Kasih, masih bisa ditelusuri jejak digitalnya.
Diposting 30 Juni 2016 oleh akun willyyandi (Willy Liu) _https://www.facebook.com/willyyandi/posts/10154269671022170
(Di postingan ini Willy Liu copas dan mencamtumkan nama “Mita” sebagai penulis artikel asli)
Diposting 11 Desember 2016
_https://www.facebook.com/cosmos.dedy/posts/10207215672502929


Diposting 21 September 2016 di Grup FB _https://www.facebook.com/groups/1561507077474381/permalink/1648637388761349/
Saat dikonfirmasi atas tulisan AFI “Belas Kasih Dalam Agama Kita” yang lagi heboh atas tudingan PLAGIAT, Willy Liu menegaskan “(itu) Tulisannya Mita Handayani, Dengan penambahan (edit) sedikit diakhir.”
Setelah heboh karena terbongkarnya aksi plagiarisme ini, akun facebook Afi Nihaya Faradisa saat ini tak bisa diakses. Dihapus atau menghilang?
Afi Nihaya Faradisa dikenal dengan tulisan-tulisan ala pemikiran liberalismenya. Namun akhirnya mendapat teguran langsung dari Allah di bulan suci Ramadhan ini.
Cerdas dan pintar itu bagus, tapi Kejujuran itu yang utama.
Sumber: Repelita.com

Jumat, 02 Juni 2017

Bikin Postingan Mau Bakar Masjid, Akun Facebook Poppy Putri Agustin Picu Kemarahan Netizen!!

Repelita.com

BOGOR- Status Facebook Poppy Putri Agustin memicu kemarahan netizen. Pasalnya, Poppy membuat postingan provokatif yang membuat netizen meradang.
Awalnya, Poppy membuat status yang memprotes suara adzan karena terlalu keras. Status tersebut dibuat pada Kamis, 1 Juni 2017.
“Suara adzan maghrib berisik amat.. masjid nya harus di bakar nihh,” demikian status Poppy.
Postingan tersebut langsung memicu reaksi pengguna Facebook. Mereka menyerang Poppy dengan komentar sangat kasar.
“Dasarrr orang gila,seharusnya dengar adzan itu hati tenang,iniimah mlah berisik,loe manusia apa iblis,loe nyadar atuh bhwa loe diciptakan oleh siapa,dan loe harua tauu islam gk pernah meleddek atapun membakar bkar apa yg ada di agamamu,tobat lah kau,” komentar Dede Ayu Fandini.
“Ini nih contoh kapir harobi yg memerangi islam dgn cara menistakan agama, kapir yg kaya ginih yg mesty di b**uh Karna dia lbih haram dan nejis daripda b**i dan a**ing,” tulis Aditya Ikbaludin.
Beberapa jam kemudian Poppy kembali membuat status provokatif. Poppy menyebut agama Islam dengan nama  binatang. Postingan itu membuat pengguna Facebook tambah panas.
Tak cukup sampai di situ, Poppy kembali membuat status yang membuat netizen emosi, Jumat pagi (2/6/2017).
“Lihat orang puasa kok kaya ada gob**k gob**k nya yahhh,” tulisnya.
Meski banyak netizen meradang, ada pula tetap tetap santai. Sebagian tak percaya dengan postingan itu. Mereka menduga Facebook Poppy dihack. Sebab, sebelumnya Poppy tak pernah membuat postingan provokatif.
Seorang pengguna Facebook bernama Vicky Nanda Kamtis menyebut akun Poppy dihack. Bahkan, dia mengunggah screenshot percakapannya dengan orang yang meng-hack FB Poppy.
“Ini foto pelaku yang hack fb akun poppy. Hati hati aja buat pelaku yang ngehack fb akun poppy. dalam hitungan waktu bakalan dicariin pihak kepolisian.. siap siap aja masuk bui,” tulis Vicky.

Dari profil Facebooknya, Poppy Putri Agustin diketahui merupakan warga Bogor. Ia tinggal di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Sumber: Repelita.com

Bikin Postingan Mau Bakar Masjid, Akun Facebook Poppy Putri Agustin Picu Kemarahan Netizen!!

Repelita.com

BOGOR- Status Facebook Poppy Putri Agustin memicu kemarahan netizen. Pasalnya, Poppy membuat postingan provokatif yang membuat netizen meradang.
Awalnya, Poppy membuat status yang memprotes suara adzan karena terlalu keras. Status tersebut dibuat pada Kamis, 1 Juni 2017.
“Suara adzan maghrib berisik amat.. masjid nya harus di bakar nihh,” demikian status Poppy.
Postingan tersebut langsung memicu reaksi pengguna Facebook. Mereka menyerang Poppy dengan komentar sangat kasar.
“Dasarrr orang gila,seharusnya dengar adzan itu hati tenang,iniimah mlah berisik,loe manusia apa iblis,loe nyadar atuh bhwa loe diciptakan oleh siapa,dan loe harua tauu islam gk pernah meleddek atapun membakar bkar apa yg ada di agamamu,tobat lah kau,” komentar Dede Ayu Fandini.
“Ini nih contoh kapir harobi yg memerangi islam dgn cara menistakan agama, kapir yg kaya ginih yg mesty di b**uh Karna dia lbih haram dan nejis daripda b**i dan a**ing,” tulis Aditya Ikbaludin.
Beberapa jam kemudian Poppy kembali membuat status provokatif. Poppy menyebut agama Islam dengan nama  binatang. Postingan itu membuat pengguna Facebook tambah panas.
Tak cukup sampai di situ, Poppy kembali membuat status yang membuat netizen emosi, Jumat pagi (2/6/2017).
“Lihat orang puasa kok kaya ada gob**k gob**k nya yahhh,” tulisnya.
Meski banyak netizen meradang, ada pula tetap tetap santai. Sebagian tak percaya dengan postingan itu. Mereka menduga Facebook Poppy dihack. Sebab, sebelumnya Poppy tak pernah membuat postingan provokatif.
Seorang pengguna Facebook bernama Vicky Nanda Kamtis menyebut akun Poppy dihack. Bahkan, dia mengunggah screenshot percakapannya dengan orang yang meng-hack FB Poppy.
“Ini foto pelaku yang hack fb akun poppy. Hati hati aja buat pelaku yang ngehack fb akun poppy. dalam hitungan waktu bakalan dicariin pihak kepolisian.. siap siap aja masuk bui,” tulis Vicky.

Dari profil Facebooknya, Poppy Putri Agustin diketahui merupakan warga Bogor. Ia tinggal di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Sumber: Repelita.com

Kamis, 01 Juni 2017

Heboh!! Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) Bentukan Baru Jokowi Ancam Penghapusan Facebook di Indonesia Jika Tidak Mau Bekerja Sama

RimaNews.com



, JAKARTA -- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, mengatakan pengawasan Badan Siber Sandi Nasional  (BSSN) tak hanya website tapi juga akun medsos yang dianggap tidak sesuai aturan. Jika facebook tak mau bekerja sama maka facebook bisa saja dihilangkan dari Indonesia.

"Perpresnya (BSSN) sudah, sudah diundangkan ‎ bahkan. Jadi ini mulai dari mendeteksi, mencegah, sampai ketika ada apa-apa kaitannya dengan cyber security dia juga memperbaiki," kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, Kamis (1/6).

Menurut Rudiantara, BSSN ini sudah‎ sudah dirancang sejak 2015. Namun karena proses pembuatan yang agak lama, maka baru bisa diluncurkan sekarang.

Pengawasan oleh BSSN bukan hanya melalui website yang diangap berbahaya. Bahkan akun pengguna internet dan media sosial jika dianggap tidak sesuai dengan ketentuan yang ada maka bisa dibekukan dan diperiksa.

Misalnya dalam penggunaan media sosial facebook. Jika ada akun‎ yang menyebarkan konten-konten negatif, bertentangan dengan keberadaan negara, maka Kemenkominfo dan Basinas bisa menutup akun tersebut.

Namun, kerja sama dengan media sosial seperti ini memang tidak mudah. Meski demikian, pemerintah tetap berkomitmen dalam hal ini. Artinya akan ada kerja sama dengan facebook. Kalau perusahaan tersebut tidak mau bekerjasama, maka facebook bisa saja dihilangkan dari Indonesia.

‎Di negara luar, lanjut Rudiantara, ada undang-undang yang bahkan berfokus pada penggunaan dan kerja sama dengan facebook. Bila pemerintah Indonesia ingin melakukan hal serupa akan sulit, karena pembahasan UU tidak gampang. Untuk itu, polanya adalah dengan menutup akun atau memblokir media sosial facebook di Indonesia.

‎BSSN tidak akan bersebrangan atau tumpang tindih kinerja dengan badan siber lain yang telah ada seperti milik Polri. Badan ini justru akan mempersatukan semua elemen yang berkaitan dengan siber.

Sumber: Republika.co.id

Heboh!! Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) Bentukan Baru Jokowi Ancam Penghapusan Facebook di Indonesia Jika Tidak Mau Bekerja Sama

RimaNews.com



, JAKARTA -- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, mengatakan pengawasan Badan Siber Sandi Nasional  (BSSN) tak hanya website tapi juga akun medsos yang dianggap tidak sesuai aturan. Jika facebook tak mau bekerja sama maka facebook bisa saja dihilangkan dari Indonesia.

"Perpresnya (BSSN) sudah, sudah diundangkan ‎ bahkan. Jadi ini mulai dari mendeteksi, mencegah, sampai ketika ada apa-apa kaitannya dengan cyber security dia juga memperbaiki," kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, Kamis (1/6).

Menurut Rudiantara, BSSN ini sudah‎ sudah dirancang sejak 2015. Namun karena proses pembuatan yang agak lama, maka baru bisa diluncurkan sekarang.

Pengawasan oleh BSSN bukan hanya melalui website yang diangap berbahaya. Bahkan akun pengguna internet dan media sosial jika dianggap tidak sesuai dengan ketentuan yang ada maka bisa dibekukan dan diperiksa.

Misalnya dalam penggunaan media sosial facebook. Jika ada akun‎ yang menyebarkan konten-konten negatif, bertentangan dengan keberadaan negara, maka Kemenkominfo dan Basinas bisa menutup akun tersebut.

Namun, kerja sama dengan media sosial seperti ini memang tidak mudah. Meski demikian, pemerintah tetap berkomitmen dalam hal ini. Artinya akan ada kerja sama dengan facebook. Kalau perusahaan tersebut tidak mau bekerjasama, maka facebook bisa saja dihilangkan dari Indonesia.

‎Di negara luar, lanjut Rudiantara, ada undang-undang yang bahkan berfokus pada penggunaan dan kerja sama dengan facebook. Bila pemerintah Indonesia ingin melakukan hal serupa akan sulit, karena pembahasan UU tidak gampang. Untuk itu, polanya adalah dengan menutup akun atau memblokir media sosial facebook di Indonesia.

‎BSSN tidak akan bersebrangan atau tumpang tindih kinerja dengan badan siber lain yang telah ada seperti milik Polri. Badan ini justru akan mempersatukan semua elemen yang berkaitan dengan siber.

Sumber: Republika.co.id

Tulisan Afi Tentang 'Belas Kasih dalam Agama Kita' adalah Contekan??

Detik.com

JAKARTA - Sejak semalam jagad media sosial dihebohkan oleh tulisan seorang Kompasianer mengenai status Afi yang berjudul "Belas Kasih dalam Agama Kita".

Tulisan tersebut dianggap plagiat dari tulisan serupa dari seseorang yang memiliki akun Facebook yang bernama Mita Handayani. Lantas, apakah benar Afi melakukan plagiarisme?

Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali menuturkan plagiat atau tidak, hanya berlaku untuk karya ilmiah. Sepanjang kata-kata atau tulisan merupakan pendapat umum, hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai plagiarisme.

"Sebagai contoh saya mengambil kata-kata populer dari Aa Gym yaitu 'perubahan harus dimulai dari diri sendiri'. Kalau ada yang usil, bisa saja dipersoalkan itu adalah kutipan dari John Maxwell. Namun si pemilik kutipan asli tidak mempermasalahkan dan sekarang kutipan tersebut terkenal sebagai kutipannya Aa Gym, dan bukan merupakan plagiarisme," ujarnya saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (1/6/2017).

Rhenald juga mencontohkan, pernah ada seorang mahasiswa pascasarjananya menulis di koran umum dengan tema mengenai Dutch Desease atau "penyakit Belanda". Tulisan tersebut mengupas soal perekonomian Belanda yang turun justru ketika negara itu menemukan minyak.

Setelah artikel tersebut terbit, seorang ekonom Lin Che Wei melayangkan protes keras ke Rhenald Kasali selaku kepala program pascasarjana UI. Itu lantaran tulisan mahasiswa tersebut sebagian besar persis dengan artikel yang pernah ditulis Lin Che Wei.

Selanjutnya pihak kampus memanggil mahasiswa yang bersangkutan untuk menjelaskan artikel yang ditulisnya itu.

"Setelah dipanggil, kami memutuskan bahwa itu bukan plagiat karena yang bersangkutan tidak tahu, dan itu ditulis di koran umum," jelas Rhenald.

Hal ini berbeda dengan kasus yang pernah terjadi pada Anggito Abimanyu, di mana tulisan yang terbit di Harian Kompas dinyatakan sebagai praktik plagiarisme.

Rhenald menjelaskan, Anggito Abimanyu merupakan salah satu akademisi di perguruan tinggi yang seharusnya paham dengan kaidah-kaidah penulisan. Namun dalam artikel yang ditulisnya, dia tidak menyebutkan sumber data yang dipakai untuk mendukung tulisannya.

"Ini beda karena Pak Anggito adalah akademisi yang seharusnya memahami cara-cara penulisan ilmiah. Tulisan Pak Anggito itu mengambil bahan dari tulisannya Pak Hotbonar Sinaga (mantan Dirut Jamsostek), namun dia tidak menyebutkan sumbernya," jelas Rhenald.

Menurut Rhenald Kasali, ada proses panjang untuk menentukan sebuah artikel dianggap plagiat atau tidak. Bahkan di ranah akademik, untuk memutuskannya harus melibatkan dewan guru besar dan dalam waktu yang tidak singkat.

Sementara untuk tulisan Afi, hal itu bukanlah tulisan ilmiah dan hanya status di akun Facebook-nya. Sehingga, tulisan tersebut tidak dikategorikan sebagai plagiarisme.

Untuk itu, Rhenald Kasali berpesan untuk tidak terlalu membawa aspek akademis dalam menilai apakah sebuah tulisan umum masuk plagiarisme atau bukan.
Sumber: Kompas.com

Tulisan Afi Tentang 'Belas Kasih dalam Agama Kita' adalah Contekan??

Detik.com

JAKARTA - Sejak semalam jagad media sosial dihebohkan oleh tulisan seorang Kompasianer mengenai status Afi yang berjudul "Belas Kasih dalam Agama Kita".

Tulisan tersebut dianggap plagiat dari tulisan serupa dari seseorang yang memiliki akun Facebook yang bernama Mita Handayani. Lantas, apakah benar Afi melakukan plagiarisme?

Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali menuturkan plagiat atau tidak, hanya berlaku untuk karya ilmiah. Sepanjang kata-kata atau tulisan merupakan pendapat umum, hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai plagiarisme.

"Sebagai contoh saya mengambil kata-kata populer dari Aa Gym yaitu 'perubahan harus dimulai dari diri sendiri'. Kalau ada yang usil, bisa saja dipersoalkan itu adalah kutipan dari John Maxwell. Namun si pemilik kutipan asli tidak mempermasalahkan dan sekarang kutipan tersebut terkenal sebagai kutipannya Aa Gym, dan bukan merupakan plagiarisme," ujarnya saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (1/6/2017).

Rhenald juga mencontohkan, pernah ada seorang mahasiswa pascasarjananya menulis di koran umum dengan tema mengenai Dutch Desease atau "penyakit Belanda". Tulisan tersebut mengupas soal perekonomian Belanda yang turun justru ketika negara itu menemukan minyak.

Setelah artikel tersebut terbit, seorang ekonom Lin Che Wei melayangkan protes keras ke Rhenald Kasali selaku kepala program pascasarjana UI. Itu lantaran tulisan mahasiswa tersebut sebagian besar persis dengan artikel yang pernah ditulis Lin Che Wei.

Selanjutnya pihak kampus memanggil mahasiswa yang bersangkutan untuk menjelaskan artikel yang ditulisnya itu.

"Setelah dipanggil, kami memutuskan bahwa itu bukan plagiat karena yang bersangkutan tidak tahu, dan itu ditulis di koran umum," jelas Rhenald.

Hal ini berbeda dengan kasus yang pernah terjadi pada Anggito Abimanyu, di mana tulisan yang terbit di Harian Kompas dinyatakan sebagai praktik plagiarisme.

Rhenald menjelaskan, Anggito Abimanyu merupakan salah satu akademisi di perguruan tinggi yang seharusnya paham dengan kaidah-kaidah penulisan. Namun dalam artikel yang ditulisnya, dia tidak menyebutkan sumber data yang dipakai untuk mendukung tulisannya.

"Ini beda karena Pak Anggito adalah akademisi yang seharusnya memahami cara-cara penulisan ilmiah. Tulisan Pak Anggito itu mengambil bahan dari tulisannya Pak Hotbonar Sinaga (mantan Dirut Jamsostek), namun dia tidak menyebutkan sumbernya," jelas Rhenald.

Menurut Rhenald Kasali, ada proses panjang untuk menentukan sebuah artikel dianggap plagiat atau tidak. Bahkan di ranah akademik, untuk memutuskannya harus melibatkan dewan guru besar dan dalam waktu yang tidak singkat.

Sementara untuk tulisan Afi, hal itu bukanlah tulisan ilmiah dan hanya status di akun Facebook-nya. Sehingga, tulisan tersebut tidak dikategorikan sebagai plagiarisme.

Untuk itu, Rhenald Kasali berpesan untuk tidak terlalu membawa aspek akademis dalam menilai apakah sebuah tulisan umum masuk plagiarisme atau bukan.
Sumber: Kompas.com